Saturday, March 30, 2013

Selamat Ulang Tahun

Selamat ulang tahun buat guehh.
Semoga di tahun akhir hidup guehh ini, gueeh bisa meraih sesuatu yg besar.

I was a shooting star.

Hidup dengan kejayaan namun mati muda.

Friday, March 29, 2013

Cerita Tentang Dia

Masih cerita tentang dia
Tamu dalam pikiranku

Dia datang dan pergi sesukanya
Tak dapat dicegah

Masih cerita tentang dia
Kata-katanya tak sama seperti dulu
Hubungan yang baik telah menjadi abu

Masih cerita tentang dia
Seseorang yang tau bahwa aku pura pura tak tahu

Akhirnya
Kemenangan merebut kota, sia-sia.

Tuesday, March 26, 2013

Kau Tahu Dia Tahu

Apa yang aku suka dari dirinya? Banyak.
Apa yang aku ga suka dari dirinya? Banyak juga.

Sampai jumpa lagi tahun depan, semoga saat itu, jarimu telah melingkar dengannya. :))

Kau tahu dia tahu
Dia tahu aku tahu

Dan
Aku juga tahu kau telah tahu

Sunday, March 24, 2013

Bersyukurrr?

Satu hal yang paling mudah dilakukan di dunia ini adalah bersyukur saat keadaan sedang baik atau sesuai dengan harapan kita. Mengapa mudah? Karena tidak Da yang perlu dikhawatirkan lagi, toh semua sudah baik dan berjalan sesuai arahnya.

Nah, ada satu hal yang lebih lanjut yaitu bersyukur pada saat sulit. Saat semua hal sepertinya tidak berjalan sesuai rencana. Disinilah respon seseorang akan berpengaruh terhadap langkah selanjutnya. Disini juga watak seseorang akan terlihat. Apakah akan terlihat jiwa pengeluhnya atau tidak.
Saya bukan bilang bahwa kita tidak boleh mengeluh, berkeluh kesah. Yang salah itu adalah jika keluhan itu berlebihan. :)

Jadi bersyukur saat keadaan sulit memerlukan suatu sikap iman bahwa Tuhan akan menyediakan (solusinya). Tentunya hal ini harus diiringi dengan tindakan untuk meraih itu.

Mulai hari ini, aku mau bersyukur setiap waktu.

Friday, March 22, 2013

Semangat


kesendirian itu hal yang tak menyenangkan
tapi kalo demi kebaikan adalah pengecualian

kalo kebaikan itu sudah terwujud
kesendirian itu akan musnah dengan perlahan

apakah kesendirian itu membuatmu takut???
sayang sekali berarti, kau belum mengerti makna tersembunyinya.

kau meratapi kesendirianmu???
wah, sayang sekali..itulah waktumu untuk bisa lebih baik lagi

kau mengenang tentang kebersamaanmu yang dulu???
wah sayang sekali, kau masih belum bisa merubah sikapmu..

tak baik,
bila kita tenggelam dalam kebersamaan yang bukan menjadi milik kita sekarang
masa lalu adalah sejarah

kita hidup dan berjuang di masa sekarang
masa depan adalah misteri

setiap keputusan akan mempengaruhi masa depan.

-dgs

Monday, March 18, 2013

Kebiasaan, Keangkuhan, Perubahan dan Proses

Kali ini saya mau berbicara mengenai proses. Proses adalah suatu fase untuk mencapai hasil. Pada tahap proses inilah, suatu benda mengalami banyak perlakuan yang bisa saja baik atau buruk. Secara langsung atau tidak, hal ini akan berpengaruh kepada hasilnya kelak.

Proses ada yang instan seperti pelepasan elektron valensi. Ada juga yang berlangsung ribuan tahun seperti peluruhan inti karbon.
Saya menekankan kata instan dan ribuan tahun. Ya, kali ini saya ingin berbicara mengenai waktu.

Pernah liat ga ada orang yang tiba-tiba jago main bola basket. Dari 5 percobaan 3-poin bisa masuk semua tanpa cacat. Atau pernah liat ga ada orang yang belum pernah main piano, tiba-tiba bisa bermain simfoni chopin tanpa cela.

Jika ada yang seperti itu, kamu pasti sedang ada dalam mimpi. Hehe becanda.

Saat saya tingkat 1, bisa dibilang saya sangat kelebihan hormon. Saya rasa bisa menaklukan apapun. Akhirnya muncul rasa angkuh dalam diri. Padahal kalo dipikir-pikir, betapa hijaunya saya.
Kala itu saya berpikir bahwa orang yang jarang masuk kelas, tidak pernah mengulang pelajaran dosen di kosan/rumah, namun ketika ujian bisa dapet A adalah keren.

Selama empat tahun saya seperti itu. Pada permulaannya sih bagus. Saya jadi makin sombong. Tapi pada pertengahan saya jadi belepotan sendiri.
Pelajaran di kuliah telah disusun secara sistematis. Dimana untuk menguasai kredit yang lebih tinggi, tentunya diperlukan mata kuliah prasyarat. Jika mata kuliah kredit itu ada di semester 4, maka mata kuliah prasyaratnya ada di semester sebelumnya.

Balik lagi ke kebiasaan -yang saya anggap keren itu-, biasanya saya hanya belajar sebelum ujian. Jika ujian jam 8 pagi, maka saya belajar sekitar 1-2 jam sebelumnya. Ya. Saya belajar jam 5-7, terus berangkat ke kampus. Kebiasaan yang saya buat itu dalam beberapa kasus menjadikan nilai saya bagus, namun karena sepanjang semster tidak pernah belajar serius, saya seolah tidak ada apa-apa yang tersisa. Belajar sebelum ujian hanya bertahan sebentar. Mengapa? Karena tidak melalui proses yang kuat. Alias instan.

Saya sadar harusnya saya memiliki dasar yang kuat. Saya harus berubah. Namun apa yang sering saya lakukan kini telah menjadi kebiasaan. Ditambah rasa angkuh yang tinggi menjadikan saya sulit untuk berubah.
Saya sadar namun terlalu berat untuk berubah. Salahnya lagi saya tidak cerita ke orang lain. Tidak ada yang menegur atau sekadar mengingatkan saya.
Saya pasrah ama keadaan.

Akhirnya bisa juga saya wisuda. Saya heran kok bisa saya wisuda karena saya sadar proses yang saya hadapi sepertinya belum begitu bagus. Buktinya adalah masih ada kebiasaan itu dan keangkuhan dalam diri.

Ternyata buahnya baru saya petik saat ini.
Memilih berkerja di bidang engineering, saya dituntut untuk tahu segalanya. Segalanya. Bukan cuma elektro aja.

Kalo bisa saya simpulkan: kemauan belajar saya adalah nol. Tapi ketika uda kepepet, mungkin kemauan itu bisa naik signifikan. Tapi masalahnya adalah ini bukan dunia kuliahan lagi. Kamu punya atasan yang mungkin gak sefleksibel dosen waktu kuliah.
Mampus deh gw.

Kini, mau gak mau, saya harus berubah. Berubah total. Awalnya saya gak tahu harus mulai dari mana.
Cogito ergo sum. Aku berpikir maka aku ada, itu kata Rene Descartes.
Saya berpikir, mungkin saya bisa menemukan jawabannya dari buku2.

Sedikit-sedikit saya baca buku tentang motivasi, tentang kehidupan dan juga rohani.

Dari situ saya gak dapet apa2. Memang odong kali kali otak saya ini. Hehe. Tapi saya menarik kesimpulan bahwa, perubahan itu dimulai dari hal-hal kecil. Bangun kepercayaan diri bahwa saya bisa berubah. Minta pertolongan orang lain untuk mengingatkan adalah ide yang tidak buruk.

Ternyata hasilnya positif, sedikit-sedikit rasa ingin tahu saya tumbuh karena saya meruntuhkan tembok keangkuhan saya. Tembok keangkuhan runtuh karena saya berkomitmen untuk rendah hati. Sejujurnya perubahan yang paling signifikan terjadi karena hati dan perasaan saya yang remuk karena digerogoti kanker jiwa, telah Tuhan Yesus sembuhkan melalui bimbingannya yang ajaib.

Gimana caranya dengerin bimbingan Tuhan? Ya buka hati. Kalo keangkuhan masih ada, bakal sulit suara Tuhan untuk didengar.
Kalo dipikir-pikir, saya udah ngelakuin dosa besar, yaitu mengandalkan diri sendiri, sehingga jelas suara pribadi lebih didengad daripada suara yang lain, termasuk suara Sang Pencipta.

Semua hal itu menyadarkan saya bahwa saya ternyata masih cupski. Kini, saya menyadari kehampaan saya, kebukansiapasiapaan saya. Meskipun begitu saya melihat ada sebuah harapan yang Tuhan sediakan. Saya tahu harapan itu tidak akan gagal, asalkan saya melihat harapan itu bukan dari kacamata keinginan saya. Harapan itu adalah mengenai kehidupan baru. :)

Setelah saya mengevaluasi diri, saya menyimpulkan bahwa kesalahan saya bertahun-tahun ada di keangkuhan. Ia bisa timbul sangat tinggi dalam diri saya ataupun bisa sembunyi kemudian muncul lagi. Itulah mengapa saya selalu gagal berubah karena kesombongan itu tidak sepenuhnya hilang.

Menghilangkan kesombongan sampai ke akarnya itu tidak mudah. Harus menganggap orang lain lebih hebat mungkin agak konyol bagi saya, tapi itu yang harus saya lakukan. Jika itu belum hilang, begitu juga kesombongan dalam hati saya.

Kini semua butuh waktu, semua ini sedang dalam proses. Saya sadar semua yang instan itu ga baik. Lebih baik saya menunggu perlahan. Jika ada percepatan proses, itu bagus, asal bukan pengkarbitan.

Percepatan : berjalan lebih cepat karena setiap elemen berjalan lebih cepat.

Pengkarbitan : berjalan lebih cepat karena ada elemen yang ditinggalkan. Maka dari itu prosesnya tidak sempurna.

Intinya, saya perlu berubah. Saya mau belajar lagi. Saya mengakui orang lain. Saya mau menjadi lebih baik lagi.
Saya harus menghadapi PROSES.

Sejak saat ini hidup saya telah berubah.

Si Pemalas, Si Yes-Man, Si Penunda

Ada 4 kuadran dalam kehidupan, yang dibentuk dari 4 keadaan. Penting, tidak penting, mendesak, tidak mendesak. Steven Covey menjelaskan secara apik dalam bukunya. Kini, apakah 4 kuadran yang melambangkan 4 tipe orang. Berikut ini sedikit ulasannya.

Si pemalas adalah orang yang selalu menganggap hal-hal di dunia ini sebagai tudak penting dan tidak mendesak. Akibatnya sudah jelas. Selain tidak bisa menentukan prioritas, ia juga tidak terlaltih untuk bertanggung jawab.

Si Yes-Man hampir selalu terjebak dalam keadaan tidak penting tapi mendesak. Semua hal yang datang kepadanya ia terima tanpa ada pemikiran untuk menolak, padahal belum tentu ia bisa mengatasinya. Orang seperti ini mungkin bisa membuat senang semua orang. Tapi lama-lama bakal capek sendiri.
Komedian USA, Bill Cosby, bilang: 'Aku tak tahu kunci untuk sukses, tapi kunci untuk gagal adalah dengan menyenangkan semua orang.

Si Penunda adalah bagian yang menyedihkan. Ia tahu hal penting tapi selalu dalam keadaan mendesak. Sebagian besar ini tdrjadi karena namanya, yaitu suka menunda.
Ada pepatah yang bilang: sekarang atau nanti, kamu tetap hatus membayat harga untuk sesuatu. Bayar itu diawal kemudian nikmati.
Terkadang ada juga orang yang malah selalu semangat jika deadline semakin mendekat. Tapi apakah itu bakal menjamin ia menjadi lebih baik.

Yang terbaik dari segalanya adalah dengan menempatkan pada posisi penting dan tidak mendesak. Semua hal disusun secara prioritas, direncanakan secara jauh-jauh hari.
Gagal merencanakan sama saja dengan merencanakan kegagalan.

Buat Si Pemalas, solusinya adalah harus mengurangi kemalasannya, belajar merencanakan dan membuat prioritas.
Si Yes-Man harus mempunyai kemauan untuk bilang tidak.
Si Penunda harus belajar untuk menunda. Kerjakan suatu hal dengan terencana, dari jauh-jauh hari mungkin bisa mewakili.

Aku dulunya adalah si yes-man. Capek, gak enak, gak ada waktu buat senang-senang sedikit karena banyak tugas. Sekarang aku mau jadi si "Prioritizer".
Mana yg penting, akan kukerjakan dulu agar nantinya tidak mendesak.